Tunggu bentaar aja...
   

Karena Obat, Wanita 23 Tahun Keriput Seperti Nenek 73 Tahun

16 Oktober 2011 | 19.33.00 WIB


Ben Tre, Vietnam -  Kasus aneh mendera seorang wanita di Vietnam. Pada usia 23 tahun, wanita itu mengalami gatal-gatal hebat di tubuhnya. Namun karena asal-asalan minum obat tanpa resep dokter, efek samping obat membuat kulitnya menjadi berkeriput dan berlipat seperti nenek usia 73 tahun.

Nguyen Thi Phuong yang kini berusia 26 tahun dan belum memiliki anak tampak seperti nenek-nenek dengan banyak cucu. Menurut dokter, Phuong mengalami sindrom langka karena efek samping dari obat yang ia minum.

Pada tahun 2008 saat usianya masih 23 tahun, Phuong mengalami gatal-gatal di sekujur tubuh. Ia yakin bahwa kondisinya disebabkan oleh alergi seumur hidup karena makanan laut. Namun saat itu, reaksi yang terjadi sangat buruk.

"Saya benar-benar merasa gatal di seluruh tubuh. Saya terus menggaruk bahkan ketika tidur," kenang Nguyen Thi Phuong, seperti dilansir Dailymail, Jumat (14/10/2011).

Phuong mengatakan saat itu ia mengonsumsi beberapa obat yang dibelinya di apotik setempat, bukan pergi ke rumah sakit karena suaminya Nguyen Thanh Tuyen (33 tahun) terlalu miskin untuk mengajaknya ke dokter.

"Setelah satu bulan meminum obat, gatal saya berkurang. Lalu saya beralih ke obat tradisional dan dan semua gatal-gatal menghilang. Namun bersamaan dengan hilangnya gatal, kulit saya mulai melorot dan berlipat," jelasnya.

Phuong kemudian mencoba obat tradisional jenis lain untuk mengobati masalah penuaan yang cepat pada kulitnya, tetapi usahanya tidak berhasil.

Dokter menduga kondisi ini mungkin terjadi karena penggunakan obat-obatan tradisional dalam jangka panjang yang dibubuhi dengat corticoid (jenis steroid) pada obat farmasi.

Steroid ini mempercepat efek dari obat yang tidak diatur penggunaannya, tetapi juga bisa memicu penyakit kulit langka yang disebut mastositosis, dimana tubuh menghasilkan sel mast (bagian dari sistem kekebalan yang membantu tubuh dalam melawan infeksi) terlalu banyak.

"Kami menganggap ini takdir kita dan saya menghentikan pengobatan pada tahun 2009. Sekarang saya selalu memakai masker wajah setiap kali pergi keluar," jelas Phuong.

Phuong mengatakan kulit di wajah, dada dan perutnya mengalami lipatan seperti perempuan tua yang telah melahirkan beberapa kali meskipun ia tidak pernah punya anak. Namun sindrom penuaan yang cepat itu tidak mempengaruhi siklus menstruasi, rambut, gigi, mata dan pikirannya.

Pada 2 Oktober lalu, dokter dari Nguyen Dinh Chieu Hospital di Provinsi Ben Tre mengatakan akan memeriksa Phuong gratis dan mengirimnya ke HCMC Dermatology Hospital jika mereka gagal untuk mendiagnosa kondisinya.

Dari pemeriksaan itu, ada beberapa ketidaksepakatan di antara dokter dalam mendiagnosis penyebab kasus langkanya ini.

"Dia mungkin telah minum obat corticoid untuk waktu yang lama. Apoteker tradisional banyak menggunakan corticoid dalam pengobatan mereka, yang menyebabkan efek samping seperti wajah membengkak dan bagian kulit tumbuh tidak normal," jelas Vo Thi Bach Suong dari HCMC University of Medicine and Pharmacy.

Nguyen Hoai Nam, seorang dosen di universitas, juga sepakat bahwa Phuong mungkin menderita kondisi langka itu karena penggunaan yang salah dari corticoid.

"Penghentikan penggunakan corticoid secara mendadak dengan mudah bisa menyebabkan Sindrom Cushing, yang secara jelas terlihat melalui kulit yang terkena," jelas Nguyen Hoai Nam.

Sindrom Cushing dapat dipicu jika seseorang memiliki tingkat hormon kortisol yang sangat tinggi dalam darah. Gejala umum termasuk penambahan berat badan, pembulatan dari wajah akibat timbunan lemak berkembang di sana dan penipisan kulit.

Namun dokter Huy Hoang Huynh dari HCMC Dermatology Hospital memiliki keraguan atas diagnosis ini. Menurutnya ini benar-benar aneh. Ini adalah pertama kalinya ia mendengar kasus proses penuaan yang terjadi sangat cepat pada orang dewasa. Ia mengatakan ini juga bukan sindrom lipodystropy.

Sindrom lipodystropy adalah sindrom langka yang menyebabkan lapisan jaringan lemak di bawah permukaan kulit hancur sementara kulit terus tumbuh pada kecepatan yang mengejutkan.

"Namun, penuaan bukanlah tanda umum dari Sindrom Cushing," jelasnya.

Saat ini tidak ada obat yang bisa menyembuhkan Phuong, tetapi ada banyak obat-obatan untuk membantu mengobati gejalanya. Dokter juga menambahkan pengobatan dapat mengembalikan 50-70 persen dari kulit normalnya dan terapi laser dapat mengurangi lipatan.

Meski tampak seperti nenek-nenek, suaminya Tuyen mengatakan tetap mencintai istinya. Cintanya tetap tidak pudar meski wajah istrinya yang cantik sudah terlihat seperti neneknya.

"Saya menikah dengan Phuong ketika dia seorang wanita cantik. Saya telah mengikuti dia melalui penyakit dan tidak pernah terkejut sama sekali. Ini tidak mudah untuk berbicara tentang urusan perkawinan sendiri. Hanya cukup mengerti bahwa saya masih sangat mencintainya," ujar Nguyen Thanh Tuyen yang bekerja sebagai tukang kayu.

Sementara Tuyen dan Phuong tidak berani untuk memiliki anak meski mereka telah menikah beberapa tahun, sejak Phuong berusia 21 tahun. Hal ini dilakukan karena kehidupan ekonomi mereka sudah sangat sulit.
sumber: detik
19.33.00 WIB | 0 Komentar | Selengkapnya...

Mengetahiu Madu Murni atau Palsu Versi Thailand

14 Oktober 2011 | 19.47.00 WIB


Bangkok, Sebagian orang meyakini membedakan madu murni dan palsu bisa dengan melihat apakah cairan itu dikerubungi semut atau tidak. Namun, menurut orang Thailand hal itu salah. Madu murni punya beberapa ciri.

"Memang semut besar tidak mau madu murni, tapi semut kecil yang tidak bisa dilihat mata, pasti mengerubungi madu itu," tutur seorang guide di sebuah ruangan khusus di Royal Nine Residence, Bangkok, Thailand kepada rombongan Familiarization Trip Corporate and Media Partner Garuda Indonesia Holidays, Selasa (26/7/2011).

Kesimpulan itu tidak mengada-ada tapi berdasarkan penelitian ilmiah. Dari serangkaian ujicoba, madu murni tetap dikerubungi semut-semut kecil saat dibiarkan di ruang terbuka. Guide itu kemudian menunjukkan gambar bentuk semut kecil di sekitar madu murni dengan perbesaran berkali-kali lipat.

Bagaimana cara membedakannya?

1. Membedakan madu murni dan palsu bisa dengan mencampur madu dengan air. Madu murni tidak akan bercampur dengan air. Sebaliknya untuk madu palsu.

"Madu (murni) dan air seperti minyak, sendiri-sendiri atau terpisah. Tidak mau campur," katanya.

Jika madu dan air ditaruh dalam piring dan digoyang-goyang, maka madu murni membentuk pola laiknya sarang lebah. Sementara, madu palsu tidak membentuk pola apa pun. Bahkan menyatu dengan air.

2. Madu murni jika diambil dengan sendok dan dijatuhkan dari ketinggian tertentu sekitar 30 cm, maka alirannya tidak terputus. Itu karena madu murni memang sangat kental, tidak pecah oleh gerak dan angin kecil.

3. Jika mencicipi madu murni, madu tersebut agak sulit ditelan karena menggumpal seperti bubur, rasanya tidak terlalu manis, dan saat ditelan tercium aroma bunga.

"Madu murni ini telah mendapatkan sertikasi ISO, FDA (AS), Kementerian Kesehatan Thailand, dan dijamin halal," katanya sembari menjelaskan bahwa Royal Nine Resident juga memroduksi Royal Jelly dan sejenis wijen yang dihasilkan dari persinggahan madu ke bunga. Ketiganya diyakini mampu mencegah penuaan dini, menjaga vitalitas, dan mengobati beragam penyakit. Untuk paket selama setahun dijual lebih dari 13 ribu Baht atau setara Rp 3,5 juta, untuk paket 6 bulan seharga lebih dari 8 ribu Baht atau setara Rp 2,5 juta.

Khasiat Madu
Seperti dilansir dari Livestrong ada beberapa khasiat jika mengonsumsi madu:

1. Madu berkhasiat obat
Sebuah penelitian yang dimuat di Archives of Pediatrics and Adolescent Medicine tahun 2007 membuktikan khasiat madu dalam mengatasi batuk pada anak umur 2-18 tahun. Pemberian sesendok madu setiap malam menjelang tidur efektif mengatasi infeksi saluran napas yang menyebabkan batuk.

Khasiat lainnya adalah kandungan antioksidan, yang menjaga sel-sel tubuh dari kerusakan akibat efek penuaan. Oleh karena itu, tidak salah jika ada yang menganggap madu adalah resep mujarab bagi yang ingin awet muda.

2. Madu memberikan lebih banyak energi
Dalam jumlah yang sama, satu sendok teh madu mampu memberikan energi lebih banyak yakni sekitar 21 kalori sementara gula hanya 15 kalori. untuk menghasilkan tingkat rasa manis yang sama, madu juga hanya perlu diberikan dalam jumlah yang lebih sedikit dibandingkan gula.

Bukan hanya kalori dan rasa manis, madu juga kaya akan kandungan vitamin terutama B-1, B-2, B6 dan C. Selain itu madu juga mengandung mineral seperti kalsium, posphor, kalium, zinc dan tembaga dengan komposisi yang berbeda tergantung jenis madunya.
sumber: detikcom
19.47.00 WIB | 0 Komentar | Selengkapnya...

Madu Manuka, Efektif Melawan Bakteri Super

Penelitian terbaru menunjukkan, sejenis madu yang biasa digunakan untuk menyembuhkan luka ternyata berpotensi besar menjadi obat ampuh untuk mengatasi bakteri super yang resisten terhadap antibiotik. 

Seperti dilansir Daily Mail, madu jenis manuka dilaporkan efektif membunuh tiga jenis bakteri yang biasa menginfeksi saat tubuh terluka, termasuk antara lain kuman super Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA).

Madu manuka adalah sejenis madu yang diproduksi lebah penghuni pohon manuka di Selandia Baru. Para ahli telah mengenal jenis madu ini sejak lama karena juga sering digunakan dalam produk-produk penyembuh luka modern. Masalahnya, rahasia dari kekuatan madu manuka dalam mengatasi luka masih menjadi misteri.

Tim yang dipimpin Profesor Rose Cooper dari University of Wales Institute Cardiff (UWIC), dalam risetnya, menemukan bahwa madu manuka ternyata mampu mencegah perkembangan bakteri dengan cara yang tidak biasa. Madu ini dapat menghalangi proses ikatan bakteri pada jaringan, tahap yang penting dalam proses infeksi.

"Mencegah ikatan juga dapat menghambat pembentukan biofilm, yang dapat melindungi bakteri dari antibiotik dan membiarkan mereka menimbulkan infeksi secara terus menerus," ungkap Cooper.

Studi lainnya yang dilakukan Cooper menunjukkan, madu manuka membuat MRSA menjadi lebih sensitif terhadap antibiotik seperti oksasilin atau secara efektif membalikkan resistensi antibiotik.

"Ini mengindikasikan bahwa antibiotika saat ini mungkin akan lebih efektif mengatasi infeksi yang disebabkan bakteri resisten jika dikombinasikan dengan madu manuka," paparnya.

Menurut Prof Cooper, riset lanjutan bakal dilakukan dengan cara meningkatkan penggunaan madu secara klinis karena para dokter kini tengah dihadapkan pada masalah kian meningkatnya kasus resistensi obat. 

"Kami perlu cara yang inovatif dan efektif dalam mengendalikan infeksi yang kemungkinannya takkan berkontribusi pada meningkatnya resistensi antibiotik," ujar  Cooper, yang memublikasikan temuannya dalam konferensi "Society for General Microbiology" di distrik Harrogate, Yorkshire Utara, Inggris.
sumber: kompas
19.36.00 WIB | 0 Komentar | Selengkapnya...

Ditemukan, Obat Pencegah Rambut Beruban

Selain kepala yang mulai membotak dan rambut menipis, rambut yang mulai beruban menjadi salah satu ciri penuaan. Oleh karena itu, banyak orang yang berusaha mengecat warna rambutnya demi menutupi uban.

Akan tetapi, Anda tidak perlu khawatir karena para peneliti di L'Oreal, perusahaan kosmetik terkemua dari Perancis, mengklaim mereka berhasil menemukan cara untuk menjaga agar rambut tetap berada dalam warna alaminya sepanjang usia.

"Ramuan" yang selama satu dekade terakhir ini didalami para ahli itu mengandung ekstrak buah yang menyerupai zat kimia yang disebut protein tryrosine 2 atau TRP-2. Seperti diketahui, rambut berada dalam puncak performanya sejak seseorang lahir hingga berusia 25 tahun. Di atas usia 30 tahun, biasanya TRP-2 mulai berkurang.

Obat yang bisa menahan agar TRP-2 dalam tubuh tetap sehingga kondisi rambut indah seperti di usia muda diciptakan dalam bentuk pil yang bisa dikonsumsi setiap hari. Mereka juga mengklaim bahwa obat ini alami dan tidak berbahaya karena menggunakan ekstrak buah.

"Kelak orang akan mengonsumsi pil ini seperti suplemen. Mereka harus mulai mengonsumsinya sebelum rambut berubah memutih," kata Bruno Bernard, Kepala Biologi Rambut L'Oreal.
Ia menambahkan, pil tersebut baru akan beredar di pasaran pada 2015 karena dibutuhkan waktu 10 tahun untuk membuktikan obat itu bekerja, mengingat rambut juga memerlukan waktu lama sebelum akhirnya beruban.
06.20.00 WIB | 0 Komentar | Selengkapnya...

Hati-hati Jika Membeli Obat Secara Online!

13 Oktober 2011 | 17.11.00 WIB

Belanja secara online (online shopping) telah menjadi tren dalam beberapa tahun terakhir ini. Online shopping sangat praktis, biasanya juga dengan harga yang kompetitif. Orang mulai beralih ke internet untuk mencari resep masakan hingga membeli obat tertentu. 

Survei menunjukkan lebih banyak orang ingin berbelanja dengan cara online. Dengan tren ini akan menimbulkan kekhawatiran akan banyaknya situs yang menjual obat-obatan ilegal. 

Meskipun penjual terlihat profesional dan dapat dipercaya, namun kebanyakan dari situs tersebut ilegal dan sebagian besar berasal dari luar negeri. Sehingga konsumen tidak dapat tahu persis obat-obatan yang mereka beli dari situs tersebut.

Seperti dikutip dari ABC Health & Wellbeing, Minggu (2/10/2011), Karen Kaye, wakil CEO dari NPS (National Prescribing Service) memperingatkan mengenai kemungkinan risiko pembelian obat secara online, antara lain:
1. Obat tersebut telah terkontaminasi
2. Obat palsu
3. Obat kadaluarsa
4. Tidak disetujui untuk dijual di negara konsumen
5. Tidak diproduksi dengan standar yang sesuai
6. Tidak diberi label
7. Tidak disimpan atau dikirim dengan benar

Tak hanya membuang-buang uang saat obat yang dibeli rusak atau palsu. Pembeli juga mungkin akan melanggar hukum karena obat-obat yang dijual ilegal. 

Tetapi yang lebih buruk dari semua itu, membeli obat dari situs yang tidak terpercaya dapat membahayakan kesehatan. Meskipun para konsumen telah mendengar peringatan mengenai pembelian obat dari situs yang tidak terpercaya, namun seringkali konsumen tetap membeli obat secara online.

Dr. Geraldine Moses, seorang apoteker klinis di National NPS Adverse Medicines Events Line selama 10 tahun, mengatakan seseorang dapat mengalami kejang ketika mengonsumsi obat antidepresan yang palsu. 

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan 10 persen obat-obatan yang tersedia di negara maju merupakan obat palsu. Baik obat generik ataupun obat paten dapat dipalsukan, namun sangat sulit dibedakan dengan yang asli karena memilki kemasan yang sangat mirip. 

Dan mungkin obat tersebut mengandung bahan aktif yang salah, tidak ada bahan aktif, terlalu banyak, atau terlalu sedikit bahan aktif serta mengandung bahan beracun atau berbahaya lainnya.

Meskipun belum menjadi masalah serius di beberapa negara, Therapeutic Goods Administration Australia misalnya telah menerima 146 laporan yang melibatkan produk medis palsu dalam 12 bulan terakhir. 

Kebanyakan obat-obatan dari situs internet luar negeri yang dijual adalah obat menurunkan berat badan, obat untuk penumbuh rambut dan untuk disfungsi ereksi yang dibeli dalam jumlah kecil untuk penggunaan pribadi. 

Bukan hanya obat palsu yang akan menimbulkan masalah. Sebagai contoh ada seorang wanita yang mengalami masalah tiroid setelah mengonsumsi produk obat penurunan berat badan yang diakui sebagai obat herbal. Namun, pada obat tersebut telah ditemukan mengandung hormon tiroid.

Motif dari konsumen yang membeli obat dari situs-situs tertentu agar dapat membeli obat tanpa berkonsultasi dengan dokter. Padahal semua obat berpotensi dapat menyebabkan efek samping yang merugikan atau berinteraksi dengan obat lain. 

Dengan kemudahan tersedianya informsi kesehatan secara online, dapat menyebabkan beberapa orang untuk mendiagnosa diri sendiri dan mencoba untuk mengobati diri sendiri. Sedangkan dokter dapat menyarankan obat yang paling cocok untuk kondisi yang dialami, bagaimana mengonsumsi dengan aman, dan bahkan dapat merekomendasikan apotek online terkemuka.

Jika memang ingin membeli obat secara online sebaiknya memperhatikan segala informasi selengkap mungkin dan tentunya harus memperhatikan apakah legal secara hukum. Obat-obatan yang dibeli dari situs luar negeri, belum tentu mendapat izin atau telah disetujui di negara konsumen.

Perhatikan reputasi situs penjual obat yang dapat dipertimbangkan antara lain:

1. Hati-hati terhadap situs yang menjual obat tanpa resep
2. Apakah situs tersebut memiliki apoteker berlisensi yang tersedia untuk menjawab pertanyaan
3. Apakah situs tersebut melindungi informasi pribadi konsumen termasuk rincian kartu kredit dan riwayat medis
4. Sewajarnya situs-situs tersebut tidak menawarkan penyembuhan ajaib atau jaminan atas kesebuhan. Jika menjamin kesembuhan, situs tersebut justru mencurigakan.
5. Jangan mengirim email yang tidak diminta
sumber: detikhealth
17.11.00 WIB | 0 Komentar | Selengkapnya...

Ternyata Minyak Ikan Tidak Bikin Pintar?

09 Oktober 2011 | 21.05.00 WIB

Minyak ikan selama ini dipercaya bisa mendukung perkembangan kecerdasan anak balita. Namun, bukti ilmiah menunjukkan hasil sebaliknya. Tidak ada perbedaan tingkat inteligensia, antara anak yang diberi minyak ikan, dan yang tidak, saat anak berusia enam tahun.

Hasil penelitian yang berlangsung selama tujuh tahun itu diumumkan oleh dr Cristina Campoy dari Spanyol. Hasil riset ini sekaligus menguatkan bukti penelitian para ilmuwan dari Norwegia baru-baru ini yang juga menemukan tidak ada perbedaan tingkat IQ, antara anak usia tujuh tahun yang saat ibunya hamil mengonsumsi minyak ikan, dan yang tidak.

Asam lemak, seperti docosahexaenoic acid  (DHA) yang ditemukan dalam minyak ikan dan beberapa sumber pangan lain, termasuk ASI, memang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan janin. Masalahnya, apakah ibu hamil yang mengonsumsi suplemen zat gizi ini akan berpengaruh terhadap kecerdasan bayinya kelak.

Dalam penelitiannya, Campoy juga meminta para ibu hamil yang berpartisipasi dalam riset ini mengonsumsi minyak ikan, minyak ikan dan asam folat, asam folat saja, atau pil yang tidak mengandung zat gizi, dalam trimester dua kehamilannya.

Tujuh tahun kemudian, Campoy dan timnya menguji kecerdasan 154 anak yang lahir dari para ibu yang ikut dalam penelitian. Hasilnya, anak-anak itu memiliki tingkat kecerdasan yang sebanding, tidak peduli suplemen apa yang diasup ibu mereka.

Kendati begitu, Campoy menegaskan bahwa hasil risetnya bukan untuk membuktikan bahwa asam lemak seperti DHA tidak penting. Malah, para peneliti menemukan anak-anak, yang saat lahir memiliki kadar DHA cukup tinggi dalam darahnya, memiliki hasil ujian kecerdasan sedikit lebih tinggi saat mereka berusia tujuh tahun.

Yang ingin ditekankan dari hasil riset ini adalah, para ibu hamil tidak perlu mengonsumsi suplemen minyak ikan. Menambahkan bahan pangan sumber omega-3 dalam menu harian sebelum dan selama kehamilan dirasa sudah cukup. Bahkan, pola makan yang kaya omega-3 dalam jangka panjang jauh lebih menguntungkan daripada suplementasi minyak ikan selama kehamilan.

Penelitian lain mengenai minyak ikan dipublikasikan di Australia. Mereka menyebutkan suplemen minyak ikan tidak meningkatkan fungsi penglihatan bayi.

Para peneliti mengungkapkan, ada banyak faktor yang memengaruhi tumbuh kembang bayi, yakni genetik, stimulasi, dan juga nutrisi. Dengan kata lain, jika hanya mengandalkan minyak ikan untuk mendapatkan anak cerdas, maka hasilnya sia-sia.

sumber: kompas
21.05.00 WIB | 0 Komentar | Selengkapnya...

Kitosan-Kurkumin Obat Anti Kanker Baru


Para peneliti Fakultas Farmasi, UGM, Yogyakarta, tahun 2003 memperoleh paten Pentagamavunon-0 di Amerika Serikat, yaitu sebuah senyawa hasil modifikasi kurkumin penghambat sel kanker. Kini dikembangkan kitosan nanopartikel untuk membawa kurkumin agar lebih efektif menyasar sel-sel kanker.

Ini (modifikasi kurkumin) menjadi obat antikanker dengan kombinasi kitosan yang melapisi kurkumin dalam ukuran nanopartikel,” kata dosen dan peneliti pada Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada, Ronny Martien, Kamis (23/6/2011), setelah menerima penghargaan dan dana bantuan penelitian dari Biro Oktroi dan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) di Jakarta.

Ronny merupakan satu di antara empat peneliti muda lainnya yang diberi hibah dana penelitian oleh Biro Oktroi dan AIPI. Ronny mengajukan usulan penelitian bidang Pemanfaatan Keanekaragaman Hayati
.
Judul penelitiannya ”Pemanfaatan Kitosan dalam Meningkatkan Bioavailibilitas Senyawa Pentagamavunon-0 (PGV-0) sebagai Obat Analgetik-Antiinflamasi dengan Formulasi Nanopartikel”.

PGV-0 merupakan turunan analog kurkumin yang diperoleh dari rimpang kunyit dan temulawak. Menurut Ronny, PGV-0 diteliti UGM bekerja sama dengan Belanda.

Lalu, PGV-0 dipatenkan di AS dengan Nomor Paten US-6.777. 447B2. Ini mengingat banyak dilakukan riset kurkumin di negara ini dan telah menghasilkan beberapa paten pula. Kurkumin itu diperoleh dari kunyit dan temulawak yang banyak diekspor Indonesia ke AS.

PGV-0 terbukti memiliki kemampuan menghambat enzim cyclooxygenase (COX-2) yang terdapat pada sel-sel kanker. Ekspresi enzim COX-2 cenderung terus meningkat di dalam sel kanker sehingga harus dihambat untuk proses penyembuhannya.

”PGV-0 sebagai obat antikanker juga punya kelemahan berupa tingkat keterlarutan dalam air yang tergolong rendah sehingga perlu dikombinasikan dengan kitosan dengan keterlarutan di dalam air yang tinggi,” kata Ronny.

Melimpah
Ronny mengemukakan, obat antikanker dengan teknologi nanopartikel ini ditempuh melalui enkapsulasi kurkumin dengan kitosan berukuran 2-5 nanometer. Ketersediaan bahan baku untuk kurkumin dan kitosan melimpah sehingga berpeluang menjadi obat murah.

”Ada dua cara untuk menjadikan kitosan dan kurkumin ini memiliki ukuran nanopartikel,” kata Ronny.
Kedua metode itu meliputi top down dan bottom up. Metode top down menggunakan prinsip fisika dengan peralatan homogeniser yang belum ada di Indonesia dan biayanya menjadi relatif mahal. Metode bottom up pada prinsipnya ditempuh proses secara kimia dengan mencampurkan kitosan dan kurkumin tersebut.

”Saat ini belum ada industri yang menyatakan ingin bekerja sama untuk mengembangkan riset ini dan memproduksi obatnya di kemudian hari,” katanya.
Menurut dia, kelimpahan bahan baku merupakan modal utama pengembangan obat itu pada masa depan. PGV-0 mudah diperoleh dari kurkumin rimpang kunyit dan temulawak yang memiliki habitat cocok di wilayah tropis di Indonesia.

Kitosan terbuat dari kitin yang terkandung di dalam cangkang udang-udangan, termasuk cangkang kepiting. Cangkang udang, misalnya, diperkirakan mencakup 30-70 persen bagian dari tubuh udang sendiri sehingga cangkang menjadi limbah yang melimpah.

Melalui proses pemurnian, cangkang akan menghasilkan kitin sebagai senyawa aminopolisakarida yang mampu mengikat 4-5 kali berat lemak ketimbang berat kitin itu sendiri. Untuk menjadikan kitin sebagai kitosan, ditempuh melalui proses hidrolisis kitin dengan asam dan basa.

Kitosan merupakan kitin yang telah dihilangkan gugus asetilnya, lalu menyisakan gugus amina bebas yang menjadikan kitosan bersifat polikationik atau ion bermuatan positif.

”Karena muatan kitosan yang positif ini bisa ditempelkan dengan kurkumin yang bermuatan negatif,” kata Ronny.

Obat antikanker dengan kombinasi kitosan dan kurkumin—lebih tepatnya adalah PGV-O dengan ukuran nanopartikel—ini dimasukkan secara oral ke tubuh penderita.

Obat nanopartikel ini selanjutnya mudah diserap dan masuk ke pembuluh darah dan jaringan sel. Obat akan bekerja ketika menjumpai sel-sel kanker, terutama menghambat enzim COX-2 pada sel-sel kanker.

”Kurkumin dalam hal ini sebagai drug atau obat yang ingin diantar dengan kitosan nanopartikel,” kata Ronny.
Pada pengembangannya nanti, drug itu bisa diubah apa saja sesuai kebutuhan pasien. Obat dengan ukuran nanopartikel akan mengurangi dosis, tetapi Ronny mengakui, hasil penelitiannya belum mencapai presisi target.

”Para peneliti farmasi di dunia sekarang sedang mengejar metode pencapaian target penyakit secara presisi untuk diobati dengan obat nanopartikel ini,” ujar Ronny.

Kelimpahan bahan baku obat nanopartikel menjadi modal utama. Namun, ketekunan dan keseriusan semua pihak untuk mendukung riset ini tak kalah penting. Bahkan, amat penting.

sumber: kompas
20.51.00 WIB | 0 Komentar | Selengkapnya...