Tunggu bentaar aja...
   

Akibat dan Cara Mencegah Keputihan

11 Oktober 2011 | 20.43.00 WIB

Seperti yang kita ketahui bersama, keputihan adalah penyakit seksual yang menjangkiti wanita. 

Akibat
Pada awalnya vagina akan mengeluarkan cairan keputih-putihan yang berbau tidak enak. Apabila melakukan hubungan seksual, keputihan akan menyebarkan bakteri pada laki-laki (suami). Biasanya, setelah 1 hari berhubungan seksual, penis laki-laki (suami) akan terasa gatal. Kalo sudah seperti ini, bukan hanya masalah kesehatan yang riskan, keharmonisan hubungan pasutri juga bisa mengalami masalah yang serius.

Keputihan yang tidak normal membuat para wanita merasa tidak nyaman dan membuat aktivitas Anda terganggu. Keputihan membuat bagian daerah kewanitaan tersa gatal, panas dan berbau tidak sedap. Keputihan pada wanita bisa menyebabkan stress, kelelahan kronis, gangguan keseimbangan kronis, dan peradangan alat kelamin, infertilitas atau dengan kata lain kemandulan, radang penyakit panggul. Pada wanita yang sedang hamil, keputihan dapat menyebabkan bayi lahir prematur dan berat badan bayi yang lahir rendah. 

Mencegahnya
Ada baiknya kita sebagai wanita harus bisa mencegah keputihan terjadi. Ada  tips singkat untuk mencegah keputihan:

  • Pastikan bagian daerah kewanitaan anda selalu bersih. Setiap buang air kecil, pastikan anda selalu mencuci dengan bersih bagian mulut Mrs. V, dan jaga agar Mrs. V tetap kering sehinga terbebas dari jamur.
  • Cukurlah rambut daerah kewanitaan Anda secara rutin, paling tidak 2 kali dalam satu bulan, selain menghindari kuma yang ada di rambu kewanitaan.
  • Sering ganti celana dalam atau pembalut apabila celana dalam terasa lembab. Bagi yang sedang menstruasi harus diperhatikan karena bakteri pada darah haid bisa menyebabkan infeksi.
  • Pilihlah sabun pembersih wanita yang tepat yaitu sabun pembersih yang tidak mengganggu keseimbangan pH disekitar daerah kewanitaan.
20.43.00 WIB | 0 Komentar | Selengkapnya...

Tips Agar Remaja Bisa Bangun Pagi

10 Oktober 2011 | 06.52.00 WIB

Orangtua kadang harus berteriak-teriak atau bolak-balik membangunkan anak remajanya di pagi hari agar tidak terlambat sekolah, tapi si anak tetap saja sulit bangun. Beberapa cara dapat membuat remaja bisa bangun pagi.

Membangunkan anak remaja di pagi hari kadang membuat orangtua frustasi. Kondisi susah membangunkan anak remaja yang sulit bangun pagi dialami hampir seluruh orangtua dan anak remaja di dunia. Hal ini terjadi karena pada saat remaja terjadi perubahan hormon yang membuat jam biologis tubuh terganggu.

Berikut beberapa cara yang bisa membuat remaja bisa bangun pagi, seperti dilansir Livestrong, Jumat (6/10/2011):

1. Suruh remaja tidur lebih awal
Kesulitan bangun di pagi hari sering diakibatkan karena remaja kurang tidur dan tidur terlalu larut malam. Menyuruh remaja tidur lebih awal dan memastikannya mendapatkan 8 sampai 9 jam tidur setiap malam dapat membantu membangunkan remaja di pagi hari dengan lebih mudah.

2. Buka tirai dan biarkan sinar matahari masuk ke dalam ruangan
Paparan sinar matahari pagi tidak hanya membantu jam biologis remaja menyadari sudah waktunya untuk bangun, tetapi juga membantu mengatur jam biologis sepanjang hari, sehingga ia akan memiliki jam tidur yang teratur.

3. Tetap tidur dan bangun di jam yang sama meski akhir pekan
Meski di akhir pekan tidak ada kewajiban untuk bangun pagi, namun bila Anda bangun terlalu siang dan tidur terlalu malam di akhir pekan bisa mengganggu jam biologis tubuh sehingga menyulitkan Anda bangun di Senin pagi. Remaja boleh saja bangun agak siang, tapi sebaiknya tidak lebih dari 2 atau 3 jam agar tidak mengganggu jam tubuh.

4. Olahraga teratur
Ajaklah remaja untuk berolahraga secara teratur selama seminggu, namun batasi aktivitas 2 hingga 3 jam sebelum tidur. Hal ini akan membuat remaja memiliki waktu tidur yang baik dan tentunya mampu bangun lebih pagi.

5. Jauhkan komputer dan kafein sebelum tidur
Agar remaja dapat tidur dengan baik, jauhkanlah dari hal-hal yang bisa mengganggu tidurnya, seperti kafein, komputer atau berdebat di malam hari. Hindari tidur dengan sinar komputer atau TV yang berkelap-kelip di kamarnya. Sebaiknya matikan lampunya saat tidur yang akan mempercepat produksi hormon melatonin, sehingga membantu remaja tidur lebih nyenyak.
sumber: detikhealth
06.52.00 WIB | 0 Komentar | Selengkapnya...

Kanker Serviks Juga Mengincar Remaja Putri

25 September 2011 | 09.59.00 WIB


Remaja wanita memiliki resiko terkena Kanker Serviks akibat penularan Human Papilloma Virus (HPV). Tiga dari empat kasus infeksi baru HPV terjadi pada wanita usia 15 hingga 25 tahun.

Jumlah penderita Kanker Serviks yang meninggal di dunia sebanyak 600 orang per hari. Di Indonesia, 20 perempuan meninggal tiap hari karena kanker ini. Sementara di seluruh dunia diperkirakan 630 juta wanita mengidap Kanker Serviks.

Di usia 20-an, tubuh perempuan sangat rentan terhadap HPV dan tubuh tidak mungkin membersihkan virus, sehingga kanker kemungkinan akan berkembang di kemudian hari.

Penelitian mengungkap, penularan HPV terjadi dalam dua-tiga tahun pertama setelah aktif secara seksual. Temuan dari kasus yang ada, sekitar 50 persen wanita yang menderita kanker serviks berusia 35-55 tahun. Namun, akibat infeksi yang terjadi saat usia muda, penularan HPV tidak hanya melalui hubungan seksual namun segala kegiatan yang memungkinkan adanya kontak kelamin.

Kanker Serviks disebabkan HPV tipe risiko tinggi di leher rahim yang menghubungkan alat kelamin dan rahim. Jika tidak segera dideteksi pada tahap awal, sel akan berkembang menjadi prakanker dan kanker. Sementara, HPV tipe risiko rendah biasanya mengakibatkan kutil kelamin (genital warts) yang tumbuh di area kelamin.

Bagi orangtua dengan anak remaja putri, sebaiknya memperhatikan pencegahan kanker serviks sejak dini. Pencegahannya antara lain melakukan pemeriksaan rutin untuk mengetahui kesehatan alat kelamin dan pemberian vaksin.

dikutip dari VIVAnews 12 April 2010
09.59.00 WIB | 0 Komentar | Selengkapnya...

Anemia pada Remaja

21 September 2011 | 16.26.00 WIB

Bagi kaum perempuan, hamil dan melahirkan merupakan bagian dari kehidupan normalnya. Perhatian akan kesehatan terutama kesehatan yang berkaitan dengan proses reproduksi menjadi sangat penting. Dalam hal ini remaja perempuan harus memperhatikan masalah anemia atau sering disebut dengan penyakit kurang darah.

Anemia masih banyak diderita oleh perempuan Indonesia. Pada tahun 1995, berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT), sekitar 57% anak perempuan (10-14 tahun) dan 39.5% perempuan (15-45 tahun) diketahui menderita anemia.

Keadaan tersebut nampaknya tidak mengalami banyak perubahan apalagi negara kita sedang dalam krisis ekonomi. Penelitian yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan R.I pada tahun 1998/99 di 2 propinsi yaitu Jawa Tengah dan Jawa Timur yang meliputi 10 Kabupaten menemukan bahwa sekitar 82% remaja putri mengalami anemia (Hb< 12 gr %) dan sekitar 70% calon pengantin wanita juga mengalami hal yang sama. Sampel dalam penelitian tersebut adalah 238 remaja putri dan 180 calon pengantin wanita.


Menurut dr. Soedjatmiko, Sp. A (K): "Bila sejak remaja anemia, saat hamil dan melahirkan bayinya juga akan ikut anemia. Padahal zat besi sangat penting untuk perkembangan otak. Akibatnya akan lahir bayi-bayi dengan kecerdasan di bawah rata-rata."

Anemia terjadi bila jumlah sel darah merah berkurang. Dengan berkurangnya hemoglobin atau darah merah tadi, tentu kemampuan sel darah merah untuk membawa oksigen ke seluruh tubuh berkurang. Akibatnya, tubuh kita kurang mendapat pasokan oksigen, yang menyebabkan tubuh lemas dan cepat lelah. Perempuan yang menderita anemia berpotensi melahirkan bayi dengan berat badan rendah (kurang dari 2.5 kg). Di samping itu, anemia dapat mengakibatkan kematian baik ibu maupun bayi pada waktu proses persalinan.

Anemia defisiensi besi dapat terjadi karena sejak bayi sudah anemia, infeksi cacing tambang, kurangnya asupan zat besi karena makanan yang kurang mengandung protein hewani, serta proses menstruasi pada remaja putri.

"Anemia harus dihilangkan agar tidak berjalan terus menerus dan menjadi lingkaran setan," kata Soedjatmiko.

Selain pemberian tablet zat besi, orang yang anemia dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang tinggi zat besi, seperti daging. Pada anemia yang lebih berat, tindakan yang diambil bisa berupa transfusi darah atau pemberian obat yang dapat merangsang produksi sel darah merah.

Perempuan lebih rentan Anemia dibanding dengan laki-laki
Kebutuhan zat besi pada perempuan adalah 3 kali lebih besar daripada pada laki-laki. Perempuan setiap bulan mengalami menstruasi yang secara otomatis mengeluarkan darah. Itulah sebabnya perempuan membutuhkan zat besi untuk mengembalikan kondisi tubuhnya kekeadaan semula. Hal tersebut tidak terjadi pada laki-laki.

Demikian pula pada waktu kehamilan, kebutuhan akan zat besi meningkat 3 kali dibanding dengan pada waktu sebelum kehamilan. Ini berkaitan dengan kebutuhan perkembangan janin yang dikandungnya.

Faktor yang menyebabkan tingginya Anemia di kalangan perempuan
Beberapa faktor kebiasaan dan sosial budaya turut memperburuk kondisi anemia di kalangan perempuan Indonesia, antara lain :
  • Kurang mengkonsumsi bahan makanan hewani.
  • Kebiasaan diet untuk mengurangi berat badan.
  • Budaya atau kebiasaan di keluarga sering menomor duakan perempuan dalam hal makanan.
  • Pantangan tertentu yang tidak jelas kebenarannya seperti perempuan hamil jangan makan ikan karena bayinya akan bau amis.
  • Kemiskinan yang menyebabkan mereka tidak mampu mengkonsumsi makanan bergizi.
sumber: kompas dan smallCrab
16.26.00 WIB | 0 Komentar | Selengkapnya...