Tunggu bentaar aja...
   

Karena Obat, Wanita 23 Tahun Keriput Seperti Nenek 73 Tahun

16 Oktober 2011 | 19.33.00 WIB


Ben Tre, Vietnam -  Kasus aneh mendera seorang wanita di Vietnam. Pada usia 23 tahun, wanita itu mengalami gatal-gatal hebat di tubuhnya. Namun karena asal-asalan minum obat tanpa resep dokter, efek samping obat membuat kulitnya menjadi berkeriput dan berlipat seperti nenek usia 73 tahun.

Nguyen Thi Phuong yang kini berusia 26 tahun dan belum memiliki anak tampak seperti nenek-nenek dengan banyak cucu. Menurut dokter, Phuong mengalami sindrom langka karena efek samping dari obat yang ia minum.

Pada tahun 2008 saat usianya masih 23 tahun, Phuong mengalami gatal-gatal di sekujur tubuh. Ia yakin bahwa kondisinya disebabkan oleh alergi seumur hidup karena makanan laut. Namun saat itu, reaksi yang terjadi sangat buruk.

"Saya benar-benar merasa gatal di seluruh tubuh. Saya terus menggaruk bahkan ketika tidur," kenang Nguyen Thi Phuong, seperti dilansir Dailymail, Jumat (14/10/2011).

Phuong mengatakan saat itu ia mengonsumsi beberapa obat yang dibelinya di apotik setempat, bukan pergi ke rumah sakit karena suaminya Nguyen Thanh Tuyen (33 tahun) terlalu miskin untuk mengajaknya ke dokter.

"Setelah satu bulan meminum obat, gatal saya berkurang. Lalu saya beralih ke obat tradisional dan dan semua gatal-gatal menghilang. Namun bersamaan dengan hilangnya gatal, kulit saya mulai melorot dan berlipat," jelasnya.

Phuong kemudian mencoba obat tradisional jenis lain untuk mengobati masalah penuaan yang cepat pada kulitnya, tetapi usahanya tidak berhasil.

Dokter menduga kondisi ini mungkin terjadi karena penggunakan obat-obatan tradisional dalam jangka panjang yang dibubuhi dengat corticoid (jenis steroid) pada obat farmasi.

Steroid ini mempercepat efek dari obat yang tidak diatur penggunaannya, tetapi juga bisa memicu penyakit kulit langka yang disebut mastositosis, dimana tubuh menghasilkan sel mast (bagian dari sistem kekebalan yang membantu tubuh dalam melawan infeksi) terlalu banyak.

"Kami menganggap ini takdir kita dan saya menghentikan pengobatan pada tahun 2009. Sekarang saya selalu memakai masker wajah setiap kali pergi keluar," jelas Phuong.

Phuong mengatakan kulit di wajah, dada dan perutnya mengalami lipatan seperti perempuan tua yang telah melahirkan beberapa kali meskipun ia tidak pernah punya anak. Namun sindrom penuaan yang cepat itu tidak mempengaruhi siklus menstruasi, rambut, gigi, mata dan pikirannya.

Pada 2 Oktober lalu, dokter dari Nguyen Dinh Chieu Hospital di Provinsi Ben Tre mengatakan akan memeriksa Phuong gratis dan mengirimnya ke HCMC Dermatology Hospital jika mereka gagal untuk mendiagnosa kondisinya.

Dari pemeriksaan itu, ada beberapa ketidaksepakatan di antara dokter dalam mendiagnosis penyebab kasus langkanya ini.

"Dia mungkin telah minum obat corticoid untuk waktu yang lama. Apoteker tradisional banyak menggunakan corticoid dalam pengobatan mereka, yang menyebabkan efek samping seperti wajah membengkak dan bagian kulit tumbuh tidak normal," jelas Vo Thi Bach Suong dari HCMC University of Medicine and Pharmacy.

Nguyen Hoai Nam, seorang dosen di universitas, juga sepakat bahwa Phuong mungkin menderita kondisi langka itu karena penggunaan yang salah dari corticoid.

"Penghentikan penggunakan corticoid secara mendadak dengan mudah bisa menyebabkan Sindrom Cushing, yang secara jelas terlihat melalui kulit yang terkena," jelas Nguyen Hoai Nam.

Sindrom Cushing dapat dipicu jika seseorang memiliki tingkat hormon kortisol yang sangat tinggi dalam darah. Gejala umum termasuk penambahan berat badan, pembulatan dari wajah akibat timbunan lemak berkembang di sana dan penipisan kulit.

Namun dokter Huy Hoang Huynh dari HCMC Dermatology Hospital memiliki keraguan atas diagnosis ini. Menurutnya ini benar-benar aneh. Ini adalah pertama kalinya ia mendengar kasus proses penuaan yang terjadi sangat cepat pada orang dewasa. Ia mengatakan ini juga bukan sindrom lipodystropy.

Sindrom lipodystropy adalah sindrom langka yang menyebabkan lapisan jaringan lemak di bawah permukaan kulit hancur sementara kulit terus tumbuh pada kecepatan yang mengejutkan.

"Namun, penuaan bukanlah tanda umum dari Sindrom Cushing," jelasnya.

Saat ini tidak ada obat yang bisa menyembuhkan Phuong, tetapi ada banyak obat-obatan untuk membantu mengobati gejalanya. Dokter juga menambahkan pengobatan dapat mengembalikan 50-70 persen dari kulit normalnya dan terapi laser dapat mengurangi lipatan.

Meski tampak seperti nenek-nenek, suaminya Tuyen mengatakan tetap mencintai istinya. Cintanya tetap tidak pudar meski wajah istrinya yang cantik sudah terlihat seperti neneknya.

"Saya menikah dengan Phuong ketika dia seorang wanita cantik. Saya telah mengikuti dia melalui penyakit dan tidak pernah terkejut sama sekali. Ini tidak mudah untuk berbicara tentang urusan perkawinan sendiri. Hanya cukup mengerti bahwa saya masih sangat mencintainya," ujar Nguyen Thanh Tuyen yang bekerja sebagai tukang kayu.

Sementara Tuyen dan Phuong tidak berani untuk memiliki anak meski mereka telah menikah beberapa tahun, sejak Phuong berusia 21 tahun. Hal ini dilakukan karena kehidupan ekonomi mereka sudah sangat sulit.
sumber: detik
19.33.00 WIB | 0 Komentar | Selengkapnya...

Nyeri Pergelangan Tangan? Hati-hati Sindrom Carpal Tunnel

15 Oktober 2011 | 08.02.00 WIB


Sindrom carpal tunnel adalah kondisi di mana tangan dan lengan merasa sakit akibat terjepitnya saraf di pergelangan tangan. Carpal Tunnel adalah terowongan sempit sebesar ibu jari yang terletak di pergelangan telapak tangan, yang terikat oleh tulang dan ligamen. Terowongan ini melindungi saraf utama tangan dan sembilan tendon yang melingkari jari.

Tekanan pada saraf akan menyebabkan rasa sakit dan melemahkan tangan yang menjadi ciri sindrom carpal tunnel. Pengobatan yang tepat dapat meringankan nyeri dan mati rasa serta mengembalikan fungsi normal tangan dan pergelangan tangan.

Gejala
Gejala sindrom carpal tunnel biasanya dimulai bertahap dari munculnya rasa sakit yang samar di pergelangan tangan, kemudian merembet ke tangan atau lengan bagian bawah.
Gejala umumnya meliputi:
  1. Kesemutan atau mati rasa di tangan atau jari, kecuali jari kelingking. Sensasi ini sering terjadi ketika memegang kemudi, menelepon, membaca surat kabar atau setelah bangun tidur.
  2. Nyeri yang menyebar dari pergelangan tangan sampai lengan ke bahu atau ke dalam telapak tangan atau atau ke jari, terutama setelah menggunakan tangan untuk kegiatan yang membutuhkan tenaga secara berulang-ulang. Biasanya terjadi di sisi lengan bagian bawah.
  3. Rasa lemah pada tangan dan kecenderungan untuk menjatuhkan benda.

Penyebab
Sindrom carpal tunnel terjadi akibat tekanan pada saraf median di dalam carpal tunnel. Saraf median adalah saraf yang berjalan dari lengan menuju tangan. Sinyal yang berjalan melalui saraf median memiliki fungsi motorik untuk menggerakkan otot-otot di sekitar pangkal ibu jari. Tekanan pada saraf ini memberikan sensasi ke sisi telapak ibu jari dan jari-jari, kecuali jari kelingking.

Apa pun yang mengganggu atau menekan saraf median di ruang carpal tunnel dapat menyebabkan sindrom carpal tunnel. Misalnya, patah tulang pergelangan tangan dapat mempersempit carpal tunnel dan mengiritasi saraf.

Perawatan dan Pengobatan
Beberapa orang dengan gejala sindrom carpal tunnel ringan dapat meringankan gejala dengan mengistirahatkan tangan dan melakukan kompres dingin untuk mengurangi pembengkakan. Jika gejala masih muncul dalam beberapa minggu, alternatif pengobatan lain seperti belat pergelangan tangan, obat-obatan, dan pembedahan mungkin diperlukan.

Jika kondisi ini didiagnosis sejak dini, metode tanpa pembedahan dapat membantu mengatasi sindrom carpal tunnel, meliputi:
  1. Belat pergelangan tangan. Belat yang menggenggam pergelangan tangan saat tidur dapat membantu meringankan gejala kesemutan dan mati rasa di malam hari. Belat malam dapat menjadi pilihan yang baik jika penderita sedang hamil.
  2. Obat anti radang dapat membantu mengurangi rasa sakit dalam jangka pendek.
  3. Kortikosteroid dapat digunakan untuk meredakan rasa sakit. Suntikan kortikosteroid mengurangi peradangan dan pembengkakan yang mengurangi tekanan pada saraf median.
Jika gejala masih menetap setelah mencoba terapi non-bedah, operasi mungkin menjadi pilihan terbaik. Tujuan dari operasi adalah untuk mengurangi tekanan pada saraf median dengan memotong ligamen (suatu jaringan lentur yang menghubungkan tulang rawan dan menutupi sendi) yang menekan saraf.

Selama proses penyembuhan setelah operasi, jaringan ligamen secara bertahap tumbuh kembali sambil memungkinkan memberi lebih banyak ruang untuk saraf. Operasi dapat dilakukan dengan beberapa cara yang berbeda:
  1. Operasi endoskopi. Endoskopi adalah suatu perangkat seperti teleskop dengan kamera kecil yang memungkinkan dokter melihat ke dalam carpal tunnel dan melakukan operasi melalui sayatan kecil di tangan atau pergelangan tangan.
  2. Operasi terbuka. Dalam kasus lain, operasi dilakukan dengan membuat sayatan yang besar di telapak tangan di atas carpal tunnel dan memotong ligamen untuk membebaskan saraf.
sumber: detik
08.02.00 WIB | 0 Komentar | Selengkapnya...

Perempuan Ini Bisa Terbunuh Jika Ketiduran

14 Oktober 2011 | 11.33.00 WIB

Staffordshire, Inggris, Saat mengantuk, naik kereta atau menonton film yang membosankan bisa saja membuat orang tertidur tanpa sengaja. Tapi hal ini tidak boleh terjadi pada Emma Chell, karena ketiduran bisa membunuhnya.

Emma adalah satu satu dari 200 orang di dunia yang menderita congenital central hypoventilation syndrome (CCHS). Sindrom langka ini membuat Emma berhenti bernapas setiap kali tertidur, yang berarti tertidur bisa kapan saja membunuhnya.

Congenital central hypoventilation syndrome (CCHS) atau Ondine's curse membuat penderitanya 'lupa' bernapas setiap kali tertidur karena kesalahan dalam refleks saraf yang mengontrol pernapasan.

CCHS bisa merupakan penyakit bawaan sejak lahir atau dikembangkan karena trauma tulang belakang parah, seperti kerusakan pada batang otak, stroke atau komplikasi bedah saraf. Orang dengan CCHS umumnya memerlukan trakeostomi dan ventilasi mekanik untuk bertahan hidup.

Hidup dengan kondisi CCHS membuat Emma tidak boleh tertidur di meja, menginap di rumah teman atau tertidur di kendaraan. Satu-satunya cara untuk membuatnya tetap hidup adalah dengan menggunakan masker ventilator khusus yang bisa membantunya untuk bernapas saat tidur.

"Ini menjadi suatu kesadaran sekarang karena saya memiliki kondisi ini seumur hidup. Saya tidak pernah bisa tertidur secara tidak sengaja karena itu bisa membunuh saya. Jika mengantuk di siang hari, saya akan berjalan-jalan dan mencoba menyegarkan diri," jelas Emma Chell (24 tahun), seperti dilansir Dailymail, Jumat (30/9/2011).

Emma mengatakan tidur malam yang baik benar-benar penting baginya dan ia tidak boleh minum alkohol tanpa didampingi ayah dan ibunya, karena mereka takut Emma mabuk dan pingsan.

Emma menghabiskan dua tahun pertama hidupnya di rumah sakit sementara dokter mencoba mencari tahu mengapa ia tiba-tiba berhenti bernapas.

Hanya 1 dari 200.000 anak lahir dengan kondisi CCHS, tetapi hanya sekitar 200 orang di dunia saat ini yang hidup kondisi langka ini memiliki tingkat kematian yang sangat tinggi. Emma adalah salah satu dari 30 penderita CCHS yang ada di Inggris.

"Kehamilan saya sepenuhnya normal sampai saat ia dilahirkan. Dia segera menjadi biru dan dibawa ke unit neo-natal. Pada awalnya, para dokter hanya ingin memantau, tetapi mereka menemukan bahwa setiap kali ia tidur, ia akan berhenti bernapas, kadar oksigennya akan turun dan mereka harus membangunkannya lagi," kenang Carole (51 tahun), ibunda Emma yang tinggal di Cheadle, Staffordshire.

Menurut Carole, tidak ada dokter atau perawat yang pernah melihat kondisi seperti itu sebelumnya. Akhirnya, Prof Peter Fleming, profesor pediatri di Bristol Children's Hospital mendiagnosis Emma dengan salah satu kasus pertama Inggris dari CCHS.

Emma menjalani operasi trakeostomi untuk memasukkan pipa napas ke lehernya, tetapi dokter masih terlalu takut untuk membiarkan dia pulang bersama orangtuanya. Emma harus menunggu hingga berumur 2 tahun hingga dokter memperbolehkannya pulang ke rumah.

Akhirnya, Carole dan suaminya David (56 tahun) dilatih untuk menggunakan mesin ventilasi dan monitor oksigen yang memungkinkan Emma tidur.

Dengan kondisi yang begitu langka, para dokter tidak tahu apa yang akan terjadi atau apakah harapan hidup masih ada. Emma harus menggunakan ventilasi hampir 24 jam sehari sehingga tidak ada cara untuk tak membiarkannya pulang. 
sumber: detikhealth
11.33.00 WIB | 0 Komentar | Selengkapnya...